SSUS - PERJUANGAN YANG BERTERUSAN

SSUS - PERJUANGAN YANG BERTERUSAN
Satu Bahasa Satu Bangsa Satu Negara

Saturday, July 22, 2017

Dajjal

Hadis Sahih Muslim Jilid 4. # 2480.

Dari Nawas bin Sam'an r.a. katanya: "Pada suatu pagi Rasulullah saw. berbicara mengenai Dajjal. Kadang-kadang beliau merendahkan suara dan kadang-kadang meninggikannya, sehingga kami merasa seolah-olah berada dalam kelompok lebah.
Petang hari kami mendatangi beliau. Beliau sudah tahu persoalan kami. Tanya beliau, "Apa khabar kalian?"
Jawab kami, "Ya, Rasulullah! Tadi pagi Tuan berbicara mengenai Dajjal. Kadang-kadang Tuan merendahkan suara dan kadang-kadang meninggikannya, sehingga kami merasa seolah-olah berada dalam kelompok lebah."
Jawab Rasulullah saw., "Bukan Dajjal yang mengkhuatirkan ku terhadap kamu sekalian. Jika dia muncul, dan aku masih berada di antara kamu, tentu aku akan membelamu terhadapnya. Dan jika dia muncul, sedangkan aku sudah tidak berada di sampingmu, maka ummat manusia akan menjadi pembela atas dirinya sendiri, dan Allah Ta'ala pengganti ku menjadi pembela atas setiap orang muslim. Dajjal pemuda berambut keriting, matanya ceme (buta sebelah). Aku lebih condong mengatakannya serupa dengan Abdul 'Uzza bin Qathan. Barangsiapa di antara kamu bertemu dengannya, bacakan kepadanya permulaan surat Kahfi. Dia akan muncul di suatu tempat sunyi antara Syam dan Iraq. Lalu dia merusak ke kanan dan ke kiri. Wahai hamba Allah! Kerana itu teguhkan pendirianmu!"
Tanya kami, "Ya, Rasulullah! Berapa lama dia tinggal di bumi?"
Jawab Rasulullah saw., "Empat puluh hari. Satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti sepekan, dan selebihnya seperti hari-hari kamu sekarang."
Tanya kami, "Ya, Rasulullah! Ketika sehari seperti setahun, cukupkah kalau kami solat seperti solat kami sekarang?"
Jawab beliau, "Tidak! Tetapi hitunglah bagaimana patutnya."
Tanya kami, "Berapa kecepatannya (berjalan) di bumi?"
Jawab beliau, "Seperti hujan ditiup angin. Dia mendatangi suatu kaum, maka diajaknya kaum itu supaya iman kepadanya, lalu mereka iman dan mematuhi segala perintahnya. Diperintahkannya langit supaya hujan maka turunlah hujan. Diperintahkannya bumi supaya subur, maka tumbuhlah tumbuh-tumbuhan. Bila hari telah petang, ternak mereka pulang ke kandng dalam keadaan lebih gemuk dan dengan susu lebih besar kerana cukup makan. Kemudian didatanginya kaum yang lain dan diajaknya mereka supaya iman kepadanya. Tetapi mereka menolak ajakannya. Maka dia berlalu dari mereka. Besok pagi negeri mereka menjadi kering kontang dan kekayaan mereka habis sama sekali. Kemudian dia lalu di suatu negeri yang telah rosak binasa. Katanya, "Keluarkan perbendaharaanmu!" Maka keluarlah seluruh kekayaan negeri itu dan pergi mengikuti Dajjal seperti pemimpin lebah diikuti rakyatnya. Kemudian dipanggilnya seorang muda remaja lalu dipukulnya dengan pedang sehingga anak muda itu belah dua dan belahannya terlempar sejauh anak panah dipanahkan. Dajjal memanggil tubuh yang telah terbelah itu kembali. Dia datang seutuhnya dan dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.
Sementara Dajjal asyik dengan perbuatan-perbuatannya yang merosak, Allah Ta'ala membangkitkan Isa Al Masih Ibnu Maryam. Dia diturunkan Allah dekat menara putih sebelah timur Damsyiq, memakai dua pakaian berwarna, berpegang pada sayap dua malaikat. Apabila dia menundukkan kepala hujan turun, dan apabila dia mengangkat kepala berjatuhan daripadanya biji-biji perak bagaikan mutiara. Orang kafir tidak diperkenankan mencium bau nafasnya. Siapa yang menciumnya dia terus mati. Bau nafasnya tercium sejauh mata memdang.
Maka dicarinya Dajjal bertemu olehnya di pintu gerbang kota Lud (sebuah kota dekat Baitul Maqdis), lalu dibunuhnya Dajjal. Kemudian didatanginya kaum yang dipelihara Allah dari kejahatan Dajjal. Maka diusapnya mereka dan dikhabarkannya kepada mereka kedudukannya di syurga.
Allah mewahyukan kepada 'Isa a.s., “Aku akan mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tak terkalahkan oleh siapa pun. Kerana itu selamatkanlah hamba-hamba-Ku (yang saleh) ke bukit." Lalu Allah Ta'ala membangkitkan Ya'juj dan Ma'juj. Mereka turun dari tempat yang tinggi. Gelombang pertama melalui telaga Thiber, lalu mereka minum habis air telaga tersebut. Kemudian lalu pula rombongan yang lain. Kata mereka, "Sesungguhnya dahulu di sini ada air."
Nabi 'Isa dan para sahabat beliau terkepung sehingga sebuah kepala sapi lebih berharga bagi mereka daripada seratus dinar bagi seorang kamu hari ini (kerana kekurangan makanan). Nabiyallah 'Isa dan para sahabat beliau mendoa semoga Allah Ta'ala menghancurkan Ya'juj dan Ma'juj. Maka dikirim Allah kepada mereka penyakit hidung seperti pada haiwan-haiwan sehingga mereka mati semuanya.
Kemudian Nabi 'Isa dan para sahabatnya turun ke bumi. Tetapi tidak sejengkal tanah pun didapatinya melainkan penuh dengan bangkai-bangkai busuk. Nabiyallah 'Isa dan para sahabatnya mendoa semoga Allah sudi menyingkirkan bangkai-bangkai busuk itu. Maka dikirim Allah burung-burung sebesar unta lalu diangkatnya bangkai-bangkai tersebut dan dilemparkannya ke tempat yang dikehendaki Allah.
Kemudian diturunkan Allah hujan, sehingga walaupun rumah tanah liat dan rumah-rumah bulu dibersihkannya sehingga bumi kelihatan seperti kaca. Kemudian diperintahkan Allah kepada bumi, "Tumbuhkan tumbuh-tumbuhanmu dan kembalikan keberkatanmu!" Ketika itu sekelompok keluarga kenyang memakan sebuah delima dan mereka dapat berteduh di bawah kulitnya. Rezeki mereka sangat berkah, sehingga susu seekor unta cukup untuk orang sekampung. Susu seekor sapi cukup untuk orang satu qabilah. Susu seekor biri-biri cukup untuk sekelompok keluarga dekat.
Ketika mereka sedang berada dalam keredhaan Tuhan yang demikian, tiba-tiba Allah mengirim angin baik melalui ketiak mereka, maka tercabut ruh setiap orang mukmin dan orang muslim. Maka tinggal orang-orang jahat belaka, bercampur-baur seperti keldai. Maka ketika itu terjadilah kiamat."

Wednesday, July 19, 2017

Dajjal

Hadis Sunan Ibnu Majjah Jilid 4. # 4077.
Mewartakan kepada kami 'Ali bin Muhammad, mewartakan kepada kami 'Abdur-Rahman bin Al-Muharibiy, dari Isma'il bin Rafi', yaitu Abu Rafi', dari Abu Zur'ah, Asy-Syaibaniy, yaitu Yahya bin Abu 'Amr, dari Abu Umamah Al-Bahiliy, dia berkata:

Rasulullah saw. berkhutbah kepada kami, sementara kebanyakan isi khutbahnya itu pemberitaan yang kami mewartakannya mengenai Dajjal, dan beliau memberi amaran agar waspada terhadap Dajjal.

Nabi bersabda: "Bahwasanya tidak terjadi fitnah di bumi semenjak Allah menciptakan anak cucu Nabi Adam yang lebih berat daripada fitnah Dajjal. Dan sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali dia memberi amaran kepada umatnya berkenaan Dajjal. Dan saya adalah akhir para Nabi, sedangkan kamu sekalian adalah umat yang terakhir. Dan dia (yakni Dajjal) keluar di tengah-tengah kalian, tidak dapat tidak. Kalau dia keluar, sementara saya berada di tengah-tengah kalian, maka saya dapat membela setiap orang muslim. Tapi kalau dia keluar sepeninggalku, maka setiap orang kenalah bermati-matian membela dirinya masing-masing. Sedangkan Allah adalah Dzat yang mengurusi setiap orang muslim kerana saya. Dan sesungguhnya Dajjal itu keluar dari jalan antara Syam dan Iraq. Lalu dia membuat kerusakan sebelah kanan dan kiri (yakni: daerah yang dilaluinya).

Wahai hamba-hamba Allah, tetaplah kamu sekalian pada agama Islam. Sebab sesungguhnya saya itu akan menyebutkan kepada kalian sifat/identiti Dajjal yang tidak pernah disebutkannya oleh seorang nabi pun sebelumku. Sesungguhnya dia (Dajjal) mulai berkata: "Aku adalah seorang nabi dan tidak ada nabi setelah aku". Kemudian dia memuji, lalu berkata: "Aku adalah tuhanmu sekalian". Kamu sekalian tidak dapat melihat Tuhan kalian, sehingga (sebelum) kalian meninggal dunia. Sesungguhhya Dajjal itu matanya buta sebelah, sementara Tuhan kalian tidak buta sebelah matanya. Dan sesungguhnya Dajjal itu, di antara kedua matanya tertulis: KFR, yang dapat dibaca oleh setiap orang mukmin, baik yang dapat menulis maupun yang tidak dapat.

Dan termasuk fitnahnya adalah dia disertai oleh syurga dan neraka. Maka neraka Dajjal adalah surga, dan syurganya justru neraka. Maka barangsiapa yang mendapat cubaan dengan nerakanya, maka hendaklah dia mohon pertolongan kepada Allah, dan hendaklah dia membaca pembukaan surat Al-Kahfi; maka neraka itu menjadi terasa dingin dan mensejahterakan baginya, sebagaimana yang pernah terjadi api pada nabi Ibrahim.

Sesungguhnya termasuk fitnahnya, yaitu dia (Dajjal) mengatakan kepada seorang Badui (yakni: Arab kampong): "Bagaimana pendapatmu, kalau aku membangkitkan ayah dan ibumu kepadamu, apakah kamu mahu bersaksi bahawasanya aku adalah tuhanmu?" Lalu dia menjawab: "Ya". Kemudian ada dua orang Setan yang berujud ayah dan ibunya, lalu (Dajjal) "adalah tuhanmu".

Dan sesungguhnya termasuk fitnahnya, yaitu dia diberi kuasa untuk menguasai seseorang, lalu dia membunuhnya dan menggergajinya dengan gergaji, sehingga terpelanting menjadi dua bahagian. Kemudian dia berkata: "Lihatlah oleh kalian kepada hambaku ini. Sesungguhnya aku telah membangkitkannya sekarang, kemudian dia malah menganggap bahawa dia mempunyai Tuhan selain diriku". Selanjutnya, Allah membangkitkannya. Dan Dajjal berkata kepadanya: "Siapakah tuhanmu". Maka dia menjawab: "Tuhanku adalah Allah, dan kamu adalah musuh Allah. Kamu adalah Dajjal. Demi Allah, bukankah aku setelah itu, pada hari ini justru lebih mengetahui tentang kamu". Abul-Hasan Ath-Thanafisiy berkata: Maka mewartakan kepada kami Al-Muharibiy, mewartakan kepada kami 'Ubaidullah bin Al-Walid AlWashshafiy, dari 'Athiyah, dari Abu Sa'id, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Orang tersebut adalah umatku yang paling tinggi darjatnya di dalam syurga". Dia (perawi) berkata: Abu Said berkata: Demi Allah, kami tidak mengetahui orang yang tersebut itu melainkan bernama 'Umar bin Al-Khaththab, sehingga dia telah melalui jalannya. Al-Muharibiy berkata: Kemudian kami merujuk kepada hadisnya Abu Rafi'.

Beliau saw. bersabda: "Dan sesungguhnya termasuk fitnahnya, yaitu Dajjal memerintahkan langit agar menurunkan hujan, maka langit terus hujan. Dia memerintahkan bumi agar menumbuhkan tetumbuh2an, maka terus bumi menumbuhkannya.

Dan sesungguhnya termasuk fitnahnya, yaitu Dajjal melalui suatu perkampungan, penduduknya mendustakannya (akibatnya) lalu tidak tersisa satupun binatang peliharaan, kecuali musnah/mati. Dan termasuk fitnahnya (lagi), yaitu Dajjal melalui suatu perkampungan lalu penduduknya membenarkan ucapannya. Selanjutnya Dajjal memerintahkan langit agar menurunkan hujan, lalu terus langit menurunkan hujan. Dan dia memerintahkan bumi agar menumbuhkan tetumbuh2an, lalu terus bumi menumbuhkannya, sehingga binatang-binatang ternak mereka pulang pada hari itu gemuk dan besar, perutnya kenyang, dan susunya penuh air susu.

Bahwasanya tidak ada suatu bumipun yang tersisa, kecuali Dajjal telah menginjaknya dan membuat kerusakan, selain Mekah dan Madinah. Dajjal tidak dapat mendatangi keduanya dari jalan di antara dua gunung Mekah dan Madinah, kecuali ada malaikat yang menampakkannya dengan pedang-pedang terhunus, sehingga dia singgah di gunung kecil yang merah, yaitu di tanah yang kering/tandus.

Maka Madinah menggoncang penduduknya tiga goncangan, lalu tidak tertinggal orang munafik, pria atau wanitanya, kecuali dia keluar menuju ke gunung kecil yang merah itu. Maka Madinah meniadakan orang yang buruk, seperti halnya tempat bara api menghilangkan kotoran/karat besi. Hari demikian itu disebut hari pembersihan".

Ummu Syarik binti Abul-'Akar berkata: "Ya Rasulullah, dimanakah orang Arab waktu itu?" Beliau menjawab: "Mereka, pada waktu itu, sedikit. Sebagian besar mereka berada di Baitul-Maqdis, sedangkan pemimpin mereka adalah seorang lelaki yang saleh. Maka sewaktu pemimpin/imam mereka maju untuk mengerjakan solat Subuh mengimami mereka, tiba-tiba 'Isa bin Maryam turun kepada mereka di waktu Subuh. Selanjutnya, sang imam kembali ke belakang, berjalan mundur agar Nabi 'Isa maju mengimami solat orang-orang. Kemudian 'Isa meletakkan tangannya pada antara kedua bahu sang imam, kemudian mengatakan kepadanya: "Majulah dan kerjakanlah solat sebagai imam sebab solat itu sudah diiqamatkan untukmu". Kemudian imam mereka mengerjakan solat dengan mereka.

Maka ketika dia mahu pergi, maka 'Isa as. berkata: "Bukakanlah olehmu sekalian pintu itu" lalu pintu dibuka, sedangkan dibelakang pintu ada Dajjal yang disertai oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi, yang setiap mereka mempunyai pedang yang dihiasi dan bertoga hijau. Maka bila Dajjal melihat beliau (nabi 'Isa), maka dia lebur-hancur sebagaimana hancurnya garam dalam air, dan dia lari ketakutan. Dan 'Isa a.s. berkata: "Sesungguhnya aku mempunyai suatu pukulan kepadamu yang kamu tidak bakal mendahului / menghindarkan pukulan dariku". Lalu beliau dapat menyusul Dajjal di pintu Lud sebelah timur (yakni: Sebuah tempat di Syam; menurut informasi lain’ tempat di Palestina), maka beliau 'Isa a.s. dapat membunuh Dajjal. Lalu Allah mengusir orang Yahudi hingga porak poranda. Tidak ada sesuatu ciptaan Allah yang dapat dijadikan persembunyian oleh orang Yahudi kecuali Allah menjadikan sesuatu itu dapat berkata-kata. Tidak ada batu, pohon, dinding dan binatang (kecuali Gilarqad / pohon berduri .. itu termasuk pohon mereka .. tidak mahu berbicara) melainkan dia mengatakan: "Wahai hamba Allah yang muslim, inilah orang Yahudi. Kemarilah, bunuhlah ia (yakni Yahudi itu)".

Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya harinya / masanya itu adalah selama empat puluh tahun. Setahun seperti setengah tahun, setahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu / se Jum'ah dan akhir hari-harinya adalah bagaikan bunga api. Di pagi hari, salah seorang di antara kalian tiba di pintu Madinah, tapi dia tidak sampai di pintunya yang lainnya hingga petang hari".

Lalu ditanyakan kepada beliau saw.: "Wahai Rasulullah bagaimana kami dapat mengerjakan solat di hari-hari yang pendek itu?" Beliau menjawab: "Yaitu kamu sekalian menghitung solat pada waktu itu, sebagaimana kalian memperkirakan pada hari-hari yang panjang ini, kemudian solatlah kamu sekalian".

Rasulullah saw. bersabda: "Maka akan ada 'Isa bin Maryam di tengah-tengah umatku adalah sebagai hakim yang adil, pemimpin yang berlaku adil. Beliau menghancurkan palang salib membunuh babi dan meletakkan (tidak menerima pembayaran pajak dari orang kafir). Beliau meninggalkan sedekah / zakat (lantaran banyak harta). Maka tidak ada kambing dan unta yang dijalankan. Permusuhan dan kebencian dihilangkan. Racun dari setiap yang memiliki racun dilenyapkan, sehingga seorang anak kecil memasukkan tangannya kedalam ular, maka tidak membahayakannya. Seorang anak perempuan membawa lari singa, maka tidak membahayakannya. Serigala di tengah-tengah kambing adalah dia itu bagai anjing yang menjaganya. Bumi dipenuhi kedamaian, sebagaimana bejana dipenuhi oleh air. Hanya ada satu ungkapan: Tidak boleh disembah kecuali kepada Allah dan perang berhenti / selesai. Orang Quraisy kerajaannya dirampas. Dan bumi adalah bagaikan piring besar dari perak, yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya di masa Adam, sehingga suatu kaum berkumpul di setandan anggur, maka dapat mengenyangkan mereka. Dan suatu kaum satu buah delima, maka buah itu dapat mengenyangkan mereka. Lembu hanya seharga harta begini, begitu. Dan kuda hanya beberapa dirham". Mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan harga Kuda murah." Beliau menjawab: "Karena dia tidak dipakai/dinaiki untuk berperang selama-lamanya". Ditanyakan kepada beliau saw.: "Lalu apa yang menyebabkan lembu harganya mahal." Beliau menjawab: "Dia dipakai' untuk membajak tanah semuanya. Dan sesungguhnya sebelum keluarnya Dajjal selama tiga tahun kekeringan yaitu: Manusia mengalami musibah kelaparan yang sangat. Allah memerintahkan langit, pada tahun yang pertama, agar ia menahan 1/3 (sepertiga) hujannya, dan memerintahkan bumi agar menahan 1/3 (sepertiga) tumbuh-tumbuhannya. Kemudian memerintahkan langit, pada tahun kedua, agar ia menahan 2/3 (dua pertiga) hujannya dan memerintahkan bumi agar menahan 2/3 (dua pertiga) tumbuh-tumbuhannya. Kemudian Allah memerintahkan langit, pada tahun ketiga, maka ia menahan hujannya semuanya, lalu tidak meneteskan sama sekali. Dan memerintahkan bumi, maka ia menahan tumbuh-tumbuhannya semuanya, lalu ia tidak menumbuhkan tetumbuhan yang hijau sama sekali, lalu tidak ada tersisa binatang-binatang yang mempunyai kuku berbelah kecuali musnah, melainkan apa yang dikehendaki oleh Allah". Ditanyakan kepada beliau: "Lalu apa yang menyebabkan hidupnya manusia pada zaman tersebut.". Beliau menjawab: "Yaitu bacaan: Tahlil, takbir, tasbih, tahmid, dan yang demikian itu berjalan pada mereka seperti jalannya makanan".

Abu 'Abdullah berkata: Saya mendengar Abul-Hasan Ath-Thanafisiy mengatakan: Saya mendengar 'Abdur-Rahman Al-Muharibiy mengatakan: Seyogyanya hadis ini diserahkan kepada seorang pendidik, sehingga dia mengajarkannya kepada anak-anak dalam pengajaran.

Friday, July 14, 2017

Fitnah Terhadap Ummu-l-Mukminin Sayyidatina 'Aisyah r.a.


Hadis Sahih Muslim Jilid 4. # 2377

Dari 'Aisyah r.a., isteri Nabi saw. katanya: "Biasanya apabila Rasulullah saw. hendak melakukan suatu perjalanan jauh, beliau mengadakan undian di antara para isteri beliau. Siapa yang menang undiannya dialah yang berhak ikut mendampingi Rasulullah saw. dalam perjalanan itu. Pada suatu ketika Rasulullah saw. mengundi kami untuk ikut mendampingi beliau dalam suatu peperangan yang dipimpin beliau sendiri. Aku beruntung, kerana undian ku lah yang keluar sebagai pemenang. Kerana itu akulah yang berhak pergi bersama beliau.
Peristiwa ini terjadi sesudah turunnya Ayat Hijab (lihat surat Ahzab, 33:53-59). Lalu aku dinaikkan ke dalam sebuah sekedup / tandu dan diturunkan dalam setiap perhentian (tanpa aku keluar tetapi sekedup / tandunya yang diturun naikkan). Setelah selesai perang, Rasulullah saw. serta rombongan pulang kembali ke Madinah (membawa kemenangan). Hampir sampai ke Madinah, beliau memberi izin seluruh pasukan istirehat malam.
Ketika istirehat itu, aku keluar dari sekedup dan berjalan menjauhi pasukan untuk buang hajat. Setelah selesai buang hajat aku segera kembali ke pasukan. Ketika aku menyentuh dada ku, terasa kalung ku yang terbuat dari permata zhafar buatan Yaman telah putus. Kerana itu aku kembali mencari kalung ku sehingga aku terlambat kembali ke pasukan. Sedangkan para pengawal yang bertugas menjaga ku selama dalam perjalanan telah mengangkat sekedup ku dan menaikkannya ke punggung unta yang ku kenderai (tanpa memeriksa lebih dahulu apakah aku ada di dalam atau tidak) lalu mereka berangkat. Mereka menyangka bahawa aku berada dalam sekedup. Ketika itu berat badan ku sangat ringan. Sehingga kalaupun aku berada dalam sekedup, para pengawal tidak akan merasa lebih berat bila mereka mengangkat sekedup itu. Dan ketika itu aku masih merupakan wanita muda usia.
Mereka terus berjalan menggiring unta ku (tanpa aku). Aku mendapatkan kalung ku kembali setelah pasukan berjalan agak jauh. Ketika aku sampai di tempat peristirahatan, ku dapati di sana telah sepi. Aku memutuskan untuk tetap menunggu di tempat ku semula. Kerana aku berpendapat, bila rombongan tidak menemukan ku tentu mereka akan kembali mencari ku. Ketika aku duduk menunggu mereka di tempat itu, aku mengantuk dan tertidur.
Kebetulan Shafwan bin Mu'aththal As Sulami ketinggalan pula oleh rombongan kerana dia tertidur. Ketika terbangun dia segera menyusul mereka dan lalu di dekat tempat ku menunggu. Ketika dia terlihat sesusuk tubuh sedang tidur, dia menghampiri dan mengenali ku, dia memang sudah pernah melihat ku sebelum ayat hijab turun. Aku terbangun ketika dia dengan terkejut mengucapkan kalimah istirja' (inna lillaahi wa inna ilaihi raji'un) setelah dia mengenali ku. Dan aku segera menutup muka ku dengan jilbab (kain penutup muka). Demi Allah! Dia tidak pernah mengucapkan sepatah kalimat pun kepada ku selain kalimah istirja' yang menyebabkan aku terbangun. Dia segera menyuruh untanya menunduk, dan aku disilakannya menaiki kenderaan itu. Sedangkan dia sendiri berjalan kaki menuntun unta sampai induk pasukan tersusul oleh kami sesudah mereka berhenti berehat dari terik panas tengah hari.
Tetapi sungguh celakalah orang yang sengaja membuat fitnah terhadap diri ku mengenai peristiwa itu, yang diikhtiarkan oleh pemimpin mereka 'Abdullah bin Ubay bin Salul. Setelah kami sampai di Madinah aku jatuh sakit sebulan lamanya. Sementara itu dalam masyarakat telah meluas khabar bohong mengenai diri ku. Sedangkan aku tidak tahu berita itu telah meluas sedemikian rupa kerana aku sedang sakit. Tetapi ada suatu hal yang membimbangkan ku, ialah sikap Rasulullah saw. yang tidak memperlihatkan kasih sayang seperti biasanya kalau aku sedang sakit. Beliau pernah datang menengok ku sekali, setelah memberi salam beliau bertanya, "Bagaimana keadaan mu?" Itulah yang membimbangkan ku.
Aku tidak mengetahui sama sekali heboh mengenai diri ku, sampai pada suatu hari setelah aku agak sembuh, aku pergi bersama Ummu Misthah ke lapangan di pinggir kota untuk buang hajat. Kerana memang di sanalah tempat kami buang hajat. Dan kami tidak pergi ke sana kecuali hanya pada malam hari saja. Yang demikian itu ialah sebelum kami membuat tempat tertutup di sekitar rumah kami. Memang sudah menjadi kebiasaan orang Arab pada masa dahulu, kalau buang hajat pergi ke lapangan di pinggir kota. Kerana mereka merasa jijik membuat tempat tertutup di sekitar rumah mereka.
Ummu Misthah (nama asalnya Salma), ialah anak perempuan Abu Ruhma bin Muththalib bin Abdu Manaf. Sedangkan ibunya ialah anak perempuan Shakhar bin Amir ibu saudara Abu Bakar Siddiq. Anak lelakinya ialah Misthah Ibnu Utsatsah bin Abbad bin Muththalib. Ketika kami pulang setelah selesai buang hajat, Ummu Misthah tersangkut sandalnya lalu dia menyumpah: "Celaka si Misthah." Maka ku tegur dia, "Tidak baik berkata begitu. Bukanlah engkau memaki orang yang ikut dalam peperangan Badar?" Jawab Ummu Misthah, "Alangkah bodohnya engkau! Apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakannya?" Tanya ku, "Apa yang dikatakannya?". “ Dia menghabarkan kepada ku omongan tukang-tukang fitnah (yang memburuk-burukkan diri mu)."
Semenjak aku mendengar berita Ummu Misthah itu, sakit ku semakin menjadi-jadi. Ketika Rasulullah saw. datang ke rumah ku, beliau memberi salam, lalu dia bertanya, "Bagaimana keadaan sakit mu?" Lalu aku bertanya kepada beliau, "Sudikah Tuan mengizinkan aku pulang ke rumah orang tua ku?" Kata 'Aisyah, "Sebenarnya aku ingin hendak menanyakan kepada orang tua ku kebenaran berita yang disampaikan Ummu Misthah kepada ku."
Rasulullah saw. mengizinkan ku, lalu aku pulang ke rumah orang tua ku dan bertanya kepada ibu ku, "Wahai ibu! Benarkah ada berita buruk yang dipercakapkan orang mengenai diri ku?" Jawab ibu, "Wahai anak ku sayang! Jangan engkau hiraukan. Demi Allah, jarang sekali wanita cantik yang disayangi suaminya, padahal dia mempunyai banyak madu yang tidak diomongi orang." "Subhanallah!" kata ku. "Kalau begitu, memang benarlah kiranya orang banyak mempercakapkan ku." Malam itu aku menangis semalam-malaman sampai Subuh. Air mata ku mengalir tak dapat ditahan dan aku tak dapat tidur kerananya.
Sementara itu Rasulullah saw. memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk bermusyawarah dengan mereka - kerana waktu itu wahyu terhenti -. Beliau bermusyawarah dengan keduanya apakah beliau harus menceraikan ku atau tidak. Usamah bin Zaid menyatakan pendapatnya, bahawa dia tahu benar para isteri Rasulullah saw. semuanya suci (setia) dan dia tahu benar mereka semuanya mencintai Rasulullah saw. Katanya, "Mereka adalah para isteri Tuan. Aku yakin benar bahawa semuanya adalah para isteri yang setia." Adapun 'Ali bin Thalib berkata, "Allah Ta'ala tidak akan mempersulit Tuan. Masih banyak wanita selain dia ('Aisyah). Jika Tuan menghendaki seorang gadis, tidak seorang pun yang akan menolak Tuan."Kemudian beliau panggil pula Barirah (pembantu rumah tangga 'Aisyah), lalu beliau bertanya, "Hai Barirah! Adakah engkau melihat sesuatu yang mencurigakan mengenai diri 'Aisyah?" Jawab Barirah, "Demi Allah yang mengutus Tuan dengan agama yang benar. Sungguh, aku tidak melihat sedikit pun yang mencemarkan dirinya, selain hanya dia itu seorang wanita muda yang manja, yang pergi tidur meninggalkan adonan kuih, lalu datang haiwan peliharaan (kucing atau kambing) memakan adonan itu."
Kemudian Rasulullah saw. berkhutbah di mimbar, menyatakan keberatannya atas tuduhan yang diprasangka pleh Abdullah bin Ubay bin Salul." Sabda beliau di mimbar, "Hai kaum muslimin! Siapakah di antara tuan-tuan yang setuju dengan penolakan ku atas tuduhan yang telah mencemarkan nama baik keluarga ku? Demi Allah, aku yakin keluarga ku bersih dari tuduhan kotor yang tidak benar itu. Mereka juga telah menyebut-nyebut seorang lelaki (Shafwan bin Mu'aththai As Sulami) yang aku yakin bahawa dia itu orang baik. Dia tidak pernah masuk ke rumah ku kecuali bersama ku."
Maka berdirilah Sa'ad bin Mu'adz Al Anshari, lalu dia berkata, "Aku membelaTuan dalam masalah ini, ya Rasulullah! Jika tuduhan itu datang dari suku Aus, kami penggal lehernya. Dan jika datangnya dari saudara-saudara kami suku Khazraj, kami menunggu perintah Tuan. Apa yang Tuan perintahkan segera kami laksanakan." Maka berdiri pula Sa'ad bin Ubadah, pemimpin suku Khazraj dan seorang yang soleh tetapi diperdayakan oleh rasa kesukuan. Lalu dia berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz, "Engkau bohong! Demi Allah, engkau tidak boleh membunuhnya dan memang engkau tidak sanggup melakukannya." Maka bangun pula Usaid bin Hudhair, anak pakcik Sa'ad bin Mu'adz. Katanya kepada Sa'ad bin Ubadah, "Engkaulah yang bohong! Demi Allah! Bila saja dan di mana saja kami sanggup membunuhnya! Engkau munafik, kerana engkau membela orang-orang munafik!" Pertengkaran antara suku Aus dan Khazraj itu menjadi hangat, sehingga hampir terjadi perkelahian antara mereka. Tetapi Rasulullah saw. yang masih berdiri di mimbar dapat menenangkan mereka sehingga mereka diam.
Kata Aisyah selanjutnya, "Sehari-harian kerja ku hanya menangis dan menangis siang malam. Sehingga kedua orang tua ku cemas, kalau-kalau jantung ku pecah kerana menangis. Selama aku menangis, kedua orang tua ku selalu berada di samping ku. Tiba-tiba seorang perempuan Ansar minta izin hendak bertemu dengan ku, lalu ku izinkan dia masuk. Setelah dia masuk, dia pun menangisi ku (menambah kesedihan ku). Sementara itu Rasulullah saw. pun datang. Beliau memberi salam, lalu duduk di samping ku. Sejak berita bohong itu tersiar, beliau tidak pernah duduk di samping ku. Dan sudah sebulan wahyu tidak turun kepada beliau. Iaitu semenjak peristiwa ku ini.
Ketika beliau duduk di samping ku, mula-mula beliau membaca tasyahhud. Kemudian beliau bersabda: "Hai 'Aisyah! Telah sampai kepada ku berita mengenai diri mu begini dan begitu. Jika engkau bersih dari tuduhan itu maka Allah Ta'ala akan membebaskanmu. Jika engkau memang berdosa, minta ampunlah kepada Allah Ta'ala dan taubatlah kepadaNya, kerana apabila seorang hamba sadar bahawa dia telah berdosa, kemudian dia taubat, nescaya Allah menerima taubatnya."
Setelah ucapan beliau itu selesai diucapkannya, air mata ku mengambang dan tak tertahankan oleh ku dia jatuh berderai. Aku berkata kepada bapa ku. "Ayah, tolonglah aku menjawab sabda Rasulullah saw." Jawab bapa ku, "Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang harus ku ucapkan kepada Rasulullah saw." Kemudian ku minta ibu ku, "Ibu, tolonglah aku menjawab sabda Rasulullah saw. sebentar ini." Jawab ibu ku, "Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan kepada Rasulullah." Maka terpaksalah aku sendiri yang harus menjawabnya.
Kata ku, "Aku ini adalah seorang wanita muda usia yang belum banyak mengetahui isi Al Quran. Demi Allah! Sekarang aku telah tahu bahawa Tuan telah mendengar berita mengenai tuduhan terhadap diri ku, sehingga tuduhan itu tertanam dalam diri Tuan dan nampaknya Tuan seperti membenarkan berita itu. Walaupun aku mengatakan kepada Tuan aku bersih dari tuduhan itu - demi Allah, hanya Allah sajalah yang maha tahu bahawa aku memang bersih - Tuan tentu tidak akan mempercayai ku juga. Dan seandainya aku mengatakan bahawa aku telah bersalah dan berbuat dosa, - demi Allah, Dia jugalah yang Maha Tahu bahawa aku bersih - Tuan akan mempercayainya. Demi Allah! Aku tidak memperoleh sebuah contoh pun yang paling tepat mengenai peristiwa ini, selain ucapan yang diucapkan Nabi Ya'qub, bapa Nabi Yusuf, katanya : Sabar jualah yang paling indah, dan hanya Allah sajalah tempat minta tolong atas segala tuduhan yang dituduhkan mereka." Kemudian aku berpaling dan berbaring di tempat tidur ku.
Kata 'Aisyah selanjutnya, "Demi Allah! Aku benar-benar bersih dari tuduhan itu, dan aku yakin bahawa Allah Ta'ala akan membersihkan nama baik ku dari tuduhan itu. Namun sejauh itu demi Allah, aku tidak menduga sama sekali bahawa Allah akan menurunkan wahyu dalam kaitannya dengan kes yang sedang ku hadapi ini. Sehingga akhirnya wahyu itu selalu kita baca. Kerana kes itu sangat cemar terasa oleh ku dibanding dengan keagungan firman Allah Ta'ala yang selalu kita baca. Tetapi aku berharap semoga Rasulullah saw. dapat melihat dalam mimpi beliau, di mana Allah Ta'ala memperlihatkan kepada beliau bahawa aku sungguh-sungguh bersih.
Maka demi Allah, belum lagi Rasulullah saw. meninggalkan tempat duduknya, dan belum seorang jua pun yang keluar dari rumah kami, Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Nabinya. Terlihat Nabi saw. seperti orang yang keberatan memikul beban berat, sebagai biasanya bila wahyu sedang diturunkan kepada beliau, sehingga beliau bersimbah peluh. Ketika Wahyu telah selesai turun, Rasulullah saw. tertawa. Kalimat yang mula-mula diucapkannya ialah: "Gembiralah, wahai 'Aisyah! Allah Ta'ala telah mengatakan bahawa engkau sungguh-sungguh bersih dari tuduhan itu." Lalu berkata ibu ku kepada ku, "Bangunlah engkau, nak! Mintalah maaf kepada beliau!" Jawab ku, "Demi Allah! Aku tidak perlu minta maaf kepada beliau. Aku hanya wajib memuji Allah, kerana Dialah yang menurunkan wahyu yang menyatakan bahawa aku memang bersih dari tuduhan kotor itu.”
Wahyu itu tersebut turun dalam Al Quran, surat An Nur sebanyak sepuluh ayat: "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong ini adalah dari golongan kamu juga (lihat An Nur, 24 : 11-20).
Kata 'Aisyah selanjutnya, "Selama ini Misthah dibelanjai oleh (bapa ku) Abu 'Bakar Siddiq sebagai keluarga dekat bapa. Semenjak kes itu terjadi, bapa ku bersumpah akan menghentikan bantuannya kepada Misthah untuk selama-lamanya. Maka turun pula wahyu yang melarang penghentian bantuan itu: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahawa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya....sampai dengan...Apakah kamu tidak ingin bahawa Allah mengampuni mu?" (An Nur, 24:22).
Berkata Hibhan bin Musa, kata Abdullah bin Muharak. "Inilah ayat yang istimewa di dalam kitab Allah." Maka berkata Abu Bakar, "Demi Allah! Aku lebih suka mendapat ampunan Allah Ta'ala." Maka nafkah untuk Misthah diteruskannya kembali. Dan aku tidak pernah menghentikan nafkah untuk Misthah sepeninggal beliau."

Tuesday, July 4, 2017

Ka'ab Bin Malik r.a. Tertinggal Dari Rasulullah saw Peperangan Tabuk

(Hadis Sahih Muslim Jilid 4. Hadis # 2376.)

Dari Ka'ab bin Malik r.a.. dia menceritakan tentang dirinya ketika dia tertinggal (tidak ikut berperang) dari Rasulullah saw. dalam peperangan Tabuk.
Kata Ka'ab bin Malik. "Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah saw. dalam setiap peperangan yang dipimpin sendiri oleh beliau, kecuali dalam peperangan Tabuk. Selain dari itu, aku memang tertinggal pula dalam peperangan Badar. Tetapi tidak seorang pun dapat disalahkan bila tertinggal ketika itu, kerana Rasulullah saw. pergi dengan maksud hendak memintas kafilah Quraisy. Namun Allah Ta'ala telah menghadapkan mereka dengan musuh tanpa diduga lebih dahulu. Dan aku telah baiat bersama Rasulullah saw. pada malam Aqabah di mana kami telah bersumpah setia untuk Islam. Dan aku tidak suka seandainya malam Bai'at Aqabah itu ditukar dengan perang Badar. Sekalipun Badar lebih terkenal dari Aqabah di kalangan orang banyak.

Cerita mengenai sebabnya aku tertinggal dari Rasulullah saw. dalam perang Tabuk ialah :
"Sesungguhnya aku belum pernah sedikit jua pun merasa diri ku lebih kuat dan lebih senang dari keadaan ku ketika tertinggal dalam peperangan itu. Demi Allah, aku belum pernah menyiapkan dua kenderaan kecuali untuk peperangan itu. Rasulullah saw. merencanakan penyerangan pada musim panas yang terik, menempuh perjalanan jauh serta menghadapi jumlah musuh yang banyak. Kerana itu Rasulullah saw. menjelaskan kepada kaum muslimin tugas berat yang bakal mereka hadapi, agar mereka bersiap-siap dengan sungguh-sungguh menghadapi peperangan tersebut dan Rasulullah saw. memberitahukan sasaran yang dituju. Kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah saw. ketika itu cukup banyak, tetapi tidak ada suatu daftar yang mencatat nama-nama dan jumlah mereka. Kerana itu, bila sewaktu waktu seseorang ingin menghilang (tidak ikut berperang), hal itu boleh sahaja terjadi. Kerana dia mengira bahawa Rasulullah saw. tidak akan mengetahuinya, selama tidak ada wahyu memberitahu beliau. Rasulullah saw. mengadakan penyerangan dalam peperangan itu dalam musim buah-buahan dan cuaca tidak berawan.
Sebenarnya hati ku lebih condong hendak turut berperang. Rasulullah saw. dan kaum muslimin telah siap-siap hendak berangkat. Aku merancang akan berkemas bersama-sama mereka besok pagi. Setelah aku pulang ternyata aku tidak berbuat apa-apa, sambil berkata dalam hati ku, "Aku sanggup menyelesaikannya nanti." Ternyata hal itu berkelanjutan sedemikian rupa, sedangkan orang banyak sungguh-sungguh telah siap.
Besok Subuh Rasulullah dan kaum muslimin berangkat pagi-pagi sekali, sedangkan aku belum berkemas juga. Kerana itu aku segera pulang hendak berkemas, tetapi sampai di rumah aku tidak berbuat apa-apa, sehingga pasukan berangkat seluruhnya menuju medan perang. Aku bermaksud hendak menyusul mereka, tetapi apa boleh buat yang demikian tidak ditakdirkan Allah bagi ku. Ketika aku mulai berkemas dan keluar hendak menyusul Rasulullah saw. alangkah sedihnya hati ku, kerana tidak seorang jua pun teman yang kelihatan oleh ku kecuali orang-orang munafik atau orang-orang lemah yang telah dimaafkan Allah Ta'ala tidak ikut berperang.
Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut nama ku hingga sampai di Tabuk. Setelah sampai, ketika beliau duduk di tengah-tengah kaum muslimin, barulah beliau menanyakan, "Apa kerja Ka'ab bin Malik?" Seorang lelaki dari Bani Salamah menjawab, "Ya, Rasulullah! Dia terhalang kerana merasa sayang pada selimutnya." Maka berkata Mu'adz bin Jabal, "Jahat sekali ucapan mu itu! Demi Allah, ya Rasulullah! Setahu kami selama ini dia adalah orang baik." Rasulullah saw. diam saja.
Beliau melihat samar-samar bayangan seseorang berpakaian putih lalu hilang ditelan fatamorgana. Maka berkata Rasulullah saw., "Engkau Abu Khaitsamah!" Kiranya dia memang Abu Khitsamah Al Anshari yang pernah bersedekah segantang kurma, lalu diejek oleh orang-orang munafik.
Cerita Ka'ab bin Malik selanjutnya: "Tatkala aku mendengar berita bahawa Rasulullah saw. telah berangkat dari Tabuk hendak pulang ke Madinah, timbullah rasa takut ku kerana kesalahan ku tidak turut berperang. Oleh sebab itu aku berusaha mencari jalan agar aku terhindar dari kemarahan beliau. Lalu aku minta pendapat-pendapat keluarga ku.
Tetapi tatkala aku mendengar bahawa beliau telah tiba, maka hilanglah dari ingatan ku segala fikiran buruk itu. Aku mengerti benar bahawa aku tidak akan terlepas sedikit jua pun dari hukuman, walaupun dengan berbagai alasan. Kerana itu aku bertekad hendak mengaku terus terang atas kesalahan ku. Pagi-pagi waktu Subuh, Rasulullah tiba. Seperti biasa, apabila beliau tiba dari suatu perjalanan, beliau langsung ke masjid lalu solat dua rakaat, kemudian duduk di tengah-tengah orang banyak.
Maka ketika itu datanglah orang-orang yang tidak turut berperang mengemukakan alasan-alasan (uzur) masing-masing kepada beliau dan bersumpah kepadanya. Semuanya berjumlah lebih kurang lapan puluh orang. Rasulullah saw. menerima alasan atau sumpah-sumpah mereka yang nampak nyata dan memohonkan ampun bagi mereka. Sedangkan hal-hal yang tersembunyi atau yang mereka rahsiakan, beliau serahkan kepada Allah Ta'ala.
Kini tibalah giliran ku. Ketika aku memberi salam kepada beliau, beliau menyambut salam ku dengan senyum kecut, senyum kemarahan. Lalu beliau berkata, "Kemari!" Aku datang menghampiri lalu duduk di hadapan beliau. Tanya beliau, "Mengapa kamu tidak turut berperang. Bukankah kamu telah membeli kenderaan?" Jawab ku, "Ya, Rasulullah! Demi Allah, seandainya aku berhadapan dengan orang selain Tuan dari penduduk dunia ini, nescaya aku akan mencari jalan keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan. Tetapi demi Allah! Aku tahu benar, jika aku berdusta kepada Tuan sekarang, mungkin Tuan menerimanya. Tetapi aku sungguh takut Allah akan sangat murka kepada ku. Dan jika aku berkata benar kepada Tuan, tentu Tuan akan marah kepada ku. Namun aku masih dapat mengharapkan kemaafan dari Allah Ta'ala. Demi Allah! Aku tidak mempunyai uzur (alasan) suatu apa jua pun. Bahkan aku belum pernah sesihat dan selapang seperti sekarang ini di mana aku tidak turut berperang bersama-sama Anda."
Sabda Rasulullah saw., "Betul begitu? Nah, pergilah sampai Allah memutuskan perkara mu."
Beberapa orang dari Bani Salamah turut bangkit bersama-sama dengan ku dan mengikuti ku. Kata mereka kepada ku, "Demi Allah! Kami tahu benar bahawa engkau belum pernah salah sekali jua pun sebelum ini. Mengapa engkau tidak minta maaf saja kepada Rasulullah saw. seperti orang-orang lain yang tidak turut berperang itu? Nescaya dosa mu diampun Allah berkat permohonan ampun dari Rasulullah saw. bagi mu."
Kata Ka'ab. "Demi Allah! Mereka selalu menyalahkan ku seperti itu sehingga aku berniat hendak kembali kepada Rasulullah saw. dan menarik pengakuan ku semula." Aku bertanya kepada mereka, "Adakah orang lain yang menerima hukuman seperti aku?" Jawab mereka, "Ada! Iaitu dua orang yang mengaku bersalah seperti engkau, lalu keduanya mendapat putusan seperti yang diputuskan kepada mu." Tanya ku, "Siapa mereka?" Jawab mereka, "Murrah bin Rabi'ah Al 'Amid dan Hilal bin Umaiyah Al Waqifi." Mereka mengatakan kepada ku bahawa mereka berdua adalah orang-orang saleh yang turut dalam peperangan Badar, dan orang-orang yang patut dijadikan teladan.
Setelah mereka menerangkan hal kedua orang itu, aku pun berlalu. Kata Ka'ab, "Rasulullah saw. melarang kaum muslimin bercakap-cakap dengan kami bertiga yang tidak ikut berperang. Kerana itu orang banyak menjauhi (memboikot) kami. Sikap mereka berubah terhadap kami sehingga aku merasa seperti orang asing di negeri yang ku diami, di mana penduduknya aku kenal selama ini. Hukuman seperti itu ku alami selama lima puluh hari. Kedua orang teman yang senasib dengan ku tetap sahaja tinggal di rumah mereka dan menangis selalu. Tetapi aku lebih muda dan lebih kuat dari mereka. Aku tetap keluar seperti biasa, menghadiri solat berjemaah dan pergi ke pasar walau tidak seorang jua pun yang mahu berbicara dengan ku.
Bahkan aku tetap mendatangi Rasulullah saw. dan memberi salam kepada beliau ketika beliau berada dalam majlis taklim sesudah solat. Aku bertanya dalam hati ku, "Adakah beliau menggerakkan bibir beliau untuk menjawab salam ku, atau tidak?" Aku pun solat berdekatan dengan beliau sambil menjeling kepada beliau. Setelah selesai solat beliau menengok kepada ku, tetapi bila aku menoleh kepadanya beliau menolehkan muka dari ku.
Setelah suasana diboikot kaum muslimin seperti itu berjalan agak lama, pada suatu hari aku pergi ke rumah Abu Qatadah, anak pakcik (saudara sepupu) ku, dan orang yang sangat sayang kepada ku. Aku memberi salam kepadanya. Tetapi demi Allah, dia tidak menjawab salam ku. Lalu aku berkata kepadanya, "Ya, Abu Qatadah! Aku bertanya kepada mu, tidak tahukah kamu bahawa aku tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Dia diam saja. Aku tanya lagi, tetapi dia tetap membisu. Lalu ku tanya lagi. Maka jawabnya, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Air mata ku mengalir mendengar jawapannya, lalu aku berpaling dan terus pulang.
Pada suatu hari ketika aku sedang berjalan di pasar, seorang petani penduduk Syam yang sering menjual makanan di Madinah bertanya, "Siapa yang dapat menunjukkan Ka'ab bin Malik kepada ku?" katanya. Orang banyak menunjuk kepada ku. Petani itu mendatangi ku dan memberikan sepucuk surat berasal dari Raja Ghassan. Aku memang pandai membaca dan menulis. Lalu ku baca surat itu, yang isinya antara lain sebagai berikut : "Amma ba'du. Kami mendengar khabar bahawa Anda diboikot oleh teman-teman Anda. Allah tidak akan membuat Anda terhina dalam negeri dan tidak pula tersia-sia. Temuilah kami, nescaya kami akan membantu Anda dengan segala daya dan yang ada pada kami." Selesai membaca surat itu lalu kata ku, "Ini suatu ujian juga!" Maka ku dekat api lalu ku bakar surat itu.
Setelah berlalu empat puluh hari dan wahyu turun kepada Rasulullah saw. maka datanglah seorang utusan beliau kepada ku seraya berkata, "Rasulullah saw. memerintahkan kamu supaya menjauhi isteri mu!" Tanya ku, "Apakah aku harus meceraikannya atau bagaimana?" Jawabnya, "Tidak! Hanya menjauhinya. Kerana itu jangan kamu dekati dia!" Beliau juga mengutus orang kepada kedua teman yang senasib dengan ku, dengan perintah yang sama. Maka ku katakan kepada isteri ku, "Pulanglah kamu ke rumah orang tua mu dan tinggallah bersama mereka sampai Allah memberi keputusan terhadap perkara ku ini."
Kata Ka'ab, "Isteri Hilal bin Umaiyah datang kepada Rasulullah saw. memohon keringanan kepada beliau, katanya : Ya Rasulullah! Hilal bin Umaiyah sudah tua. Dia akan tersia-sia tanpa khadam (pelayan). Apakah Anda keberatan kalau aku menjadi pelayannya?" Jawab beliau, "Tidak mengapa, asal dia tidak mendekati mu." Kata isteri Hilal, "Demi Allah! Dia tidak mempunyai keinginan apa-apa. Bahkan demi Allah, dia selalu menangis sahaja sejak menerima hukuman sampai hari ini." Kerana itu sebahagian keluarga ku menyarankan pula kepada ku, "Seandainya engkau minta izin kepada Rasulullah saw. mengenai isteri mu, mungkin beliau memberi izin kepada mu seperti halnya isteri Hilal bin Umaiyah diberi izin oIeh beliau melayani Hilal." Jawab ku, "Aku tidak akan memintakan izin kepada beliau untuk isteri ku. Aku tidak tahu pasti apakah Rasulullah saw. akan memberi izin atau tidak. Aku masih muda dan sanggup mengurus diri sendiri."
Keadaan membujang seperti itu telah berlalu pula sepuluh hari. Jadi sudah lima puluh hari sejak hari pertama kami mulai diboikot. Kemudian, sesudah aku solat Subuh di atas loteng rumah kami, pagi-pagi sesudah malam yang kelima puluh, ketika aku memikirkan nasib kami sesuai dengan apa yang diperingatkan Allah kepada kami, di mana bumi ini terasa amat sempit dengan segala kelapangan yang ada, tiba-tiba terdengar oleh ku suara memanggil dengan sekuat-kuatnya, "Ya, Ka'ab bin Malik! Gembiralah”.
Aku segera sujud, kerana aku yakin kelapangan telah tiba. Rasulullah saw. telah memberi tahu orang banyak, bahawa Allah swt. telah menerima taubat kami ketika solat Subuh. Kerana itu orang banyak datang mengucapkan selamat kepada ku dan sesudah itu mereka pergi pula kepada kedua orang teman ku. Di antara mereka ada yang berlari dan ada pula yang berkenderaan. Bahkan ada seorang teman dari suku Aslam sengaja menemui ku melalui bukit. Suara-suara mengelu-ngelukan ku lebih cepat sampai ke telinga ku dari kuda mereka. Ketika suara ucapan selamat untuk menggembirakan ku dari orang yang pertama-tama sampai ke telinga ku, dengan spontan ku buka baju ku lalu ku berikan kepadanya kerana sangat gembira. Padahal demi Allah, ketika itu aku tidak mempunyai baju selain baju tersebut, sehingga aku terpaksa meminjam (ketika menghadap Rasulullah saw.)
Aku pergi menghadap Rasulullah saw. Setiap orang yang bertemu dengan ku mengucapkan selamat kerana taubat ku telah diterima Allah swt. Kata mereka, "Bahagialah tuan kerana taubat tuan telah diterima Allah swt."
Aku masuk ke masjid. Ku dapati Rasulullah saw. sedang duduk dikelilingi para sahabat. Thalhah bin 'Ubaidillah segera bangkit dan berlari menyambut ku serta menyalami ku sambil mengucapkan selamat. Demi Allah, tidak ada orang Quraisy yang berdiri selain dia. Kerana itu pula aku tidak melupakan Thalhah.
Setelah aku memberi salam kepada Rasulullah saw., maka dengan muka berseri-seri kerana gembira beliau berkata, "Gembiralah kamu dengan kebaikan yang kamu terima hari ini, yang belum pernah kamu terima sejak kamu lahir." Tanya ku, "Apakah kebaikan itu datang dari Tuan atau dari Allah Ta'ala?" Jawab beliau, "Bahkan dari Allah Ta'ala!" Biasanya apabila Rasulullah saw. gembira, wajah beliau bersinar-sinar bagaikan bulan. Kami tahu benar akan hal itu. Setelah aku duduk di hadapan beliau, aku berkata kepadanya, "Ya, Rasulullah! Kerana taubat ku diterima Allah, maka aku hendak menyedekahkan harta ku kepada Allah dan Rasul-Nya." Jawab Rasulullah saw., "Tahanlah sebahagian harta mu itu. Itulah yang baik!" Jawab ku, "Aku akan menahan harta yang ku peroleh di Khaibar."
Kata ku selanjutnya, "Ya, Rasulullah! Allah telah melepaskan ku kerana berkata benar. Maka untuk kesempurnaan taubat ku, aku tidak akan berkata-kata selamanya melainkan yang benar."
Kata Ka'ab selanjutnya, "Aku tidak tahu seorang muslim yang pernah diuji Allah kerana berkata benar, semenjak aku berkata demikian kepada Rasulullah saw. hingga sekarang. Itulah cubaan terbaik yang dilakukan Allah Ta'ala kepada ku. Demi Allah, aku berjanji tidak akan pernah berdusta. Aku berharap kepada Allah semoga Dia memelihara ku sampai akhir hayat ku.
Maka turunlah ayat-ayat surat Taubah, 9 :117 - 119, sebagai berikut:
(9:117) "Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin, dan orang-orang Ansar yang mengikut Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka."
(9:118), "Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (permintaan taubat mereka) hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu sebenarnya tetap luas, dan jiwa pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahawa tidak ada tempat lari dari (seksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka, agar tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
(9:119). "Hai, orang-orang yang beriman, takwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar."
Cerita Ka'ab selanjutnya, "Demi Allah! Belum pernah aku merasakan nikmat pada diri ku sejak aku masuk Islam yang lebih besar daripada ketika aku berkata benar terhadap Rasulullah saw. Seandainya aku berdusta kepada beliau nescaya celakalah aku seperti orang-orang yang pernah berdusta, sebagai dinyatakan dalam firman Allah Ta'ala: (9:95) "Kelak mereka akan bersumpah kepada mu dengan nama Allah apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, kerana sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."
(9: 96) "Mereka akan bersumpah kepada mu, agar kamu redha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu redha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu."

Cerita Ka'ab selanjutnya, "Kami bertiga tertinggal, maksudnya tertinggal bertaubat dari mereka-mereka yang telah diterima taubatnya oleh Rasulullah saw. secara lahir (sedang batinnya terserah kepada Allah swt.), serta dimohonkan ampun oleh beliau kepada Allah Ta'ala. Sedangkan terhadap kami bertiga Rasulullah menangguhkannya hingga datang keputusan Allah swt. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta'ala: Dan tiga orang yang tertinggal (9: 118), bukan tertinggal tidak ikut berperang, tetapi penerimaan taubat kami ditangguhkan."

Monday, June 12, 2017

So Be In Awe Of Allah; And Allah Teaches You.


Al Baqarah (2:282). So be in awe of Allah; and Allah teaches you.
Awe – Sangat takut gerun tapi sangat kasih, terpesona, kagum, sanjung, puja, sembah …

Sewaktu belum mencapai awe (takut dan kasih yang bersangatan),
Namun ada ingat dan ta’at kepada Allah;
Allah izinkan mencapai IlmNya melalui utusanNya sekadar kasih dan takutnya terhadap Allah.

Sewaktu tiada takut, tiada kasih, tiada ingat, tiada ta’at terhadap Allah swt;
Allah izinkan mencapai IlmNya melalui mana2 musuhNya sekadar berani dan tak kishnya terhadap Allah swt.

Apabila mencapai awe yang sewajarnya, Allah swt ajarkan IlmNya melalui satu daripada, atau ketiga2 saluran:
1) Ilham atau khitab atau wahyu
2) Dari balik tabir / hijab / dinding
3) Melalui utusanNya.
Asy-Syuro (42:51). وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّـهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

(2:282). وَٱتَّقُواْ ٱللَّـهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّـهُۗ
(2:282). Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu;
Iaitu, sewaktu taqwanya (awe nya) menyerupai awe yang di dalam dada S. Abu Bakar r.a. dan pewaris2 Rasulullah saw yg lain2 (sekadar peringkat yang Allah swt kehendaki), Allah swt akan mengajarkan ilmuNya terus tanpa perantara sebagaimana Allah swt mengajari Khidhir a.s.

(18:65) فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ءَاتَيۡنَـٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَعَلَّمۡنَـٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا
(18:65) Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

So Be In Awe Of Allah; And Allah Teaches You.

Friday, June 9, 2017

ALLAH SWT HAS NOT PLACED TWO HEARTS INSIDE ANY MAN>

ALLAH TIDAK MENCIPTAKAN DUA QALBU DALAM RONGGA ANAK ADAM

Al Ahzab (33:4). مَّا جَعَلَ ٱللَّهُ لِرَجُلٍ مِّن قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ
Allah swt has not placed two hearts inside any man…

Sahl Al Tustari said: The one who has directed himself to Allah swt, Mighty and Majestic is He, and is intent upon (qaṣdan) [Him], [does not] avert his gaze (iltifāt) [from Him]. For whoever pays attention to anything other than Allah swt is not truly intent upon his Lord. Indeed Allah swt, Exalted is He, says, Allah swt has not placed two hearts inside any man…
It has been said: [That is, he does not have] one heart (qalb) with which he approaches Allah swt, and another heart with which he manages the affairs of this world.
[On the other hand], the intellect (ʿaql) does have two natures (ṭabʿān): a nature which is orientated towards this world, and a nature which is orientated towards the Hereafter. The nature which is orientated to the Hereafter is in coalition (mūʾtalif) with the spiritual self (nafs al-rūḥ), whereas [the intellect’s] worldly-orientated nature is in coalition with the lustful self (nafs shahwāniyya).
It was due to this that the Prophet [prayed], ‘Do not leave me to myself for the blinking of an eye.’
For truly the servant, as long as he is occupied with Allah swt, will be veiled from himself, and as long as he is occupied with himself will be veiled from Allah swt, Mighty and Majestic is He.
====== *** =====

Al Ahzab (33:4) Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya;

Sahl Al Tustari berkata:
Seseorang yang telah putus tekadnya berkiblatkan hanya kepada Allah swt, dan ke'asyiqan qasadnya kepadaNya (qasdan) itu, tidak mengkalihkan hadhir mengadap dan memandang hatinya (iltifāt) dariNya sedikitpon; (kerana seseorang yang mengkalihkan hadhir hatinya kepada selain Dia swt, belum sebenarnya "iltifat" terhadap Tuhannya); maka itu Allah swt berfirman, "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya".

Iaitu:
Ia tidak mempunyai satu hati yang dengannya ia mendekati Allah swt, dan satu hati lain yang dengannya ia mengurus percintaannya dengan dunia.
Begitu juga ‘aqal. Ia tidak mempunyai dua wajah (ṭabʿān)… yang menghadap ke akhirat dan kedunia pada masa yang sama …. (kerana adalah mustahil si makhluk itu menloeh ke kiri dan ke kanan pada masa yang sama)
Wajah ('aqal) yang menghadap ke akhirat berpasangan (Allah pasangkan) dengan diri2 keruhanian (nafs al-ruh); manakala wajah (akal) yang menghadap ke dunia berpasangan (Allah pasangkan) dengan diri2 syahwat (nafs syahwaniyyah).

Kerana inilah Rasulullah saw (mengajarkan) berdoa, “ Dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diri ku walau sekelip mata pon."
Sebenarnyalah, si hamba itu, selagi ia (hatinya) disibukkan beserta Allah swt (ma’aAllah), ia akan terhijab dari dirinya. Sebaliknya jika ia tersibuk dengan dirinya (nafs rendahnya), ia terhijab dari Allah swt.

Thursday, May 9, 2013

Pisau Mentimun Dah Di Tangan. Apa Lagi!

Pisau Mentimun Dah Di Tangan. Apa Lagi.

DAP has conned the Chinese out of the Govt.

So?

Tepok dada tanya selera?

Cadangan Gopal Raj Kumar
di http://takemon.wordpress.com/2013/05/08/perkasa-power-behind-the-throne/
agak menyelerakan.

Potong tebal, teballah timun tu.
Hiris nipis, nipislah.

Ajar sikit kaum tamak ni
Apabila sengaja menyalah taksir kelembutan budi bahasa Melayu.

Kata pantun Melayu;

Arang semak rempah ragi,
Masam jinjang buah kepayang;
Orang tamak selalu rugi,
Macam anjing dengan bayang.

DAP sudah menghina kaum sendiri.

Layakkah kaum ini diajak makan se hidangan lagi?

Najib. Take off the valvet glove and expose what's inside..
If you have one that is.